Social Icons

Pages

Rabu, 30 Juli 2008

Jalan Lewat KOTA 11km

Alhamdulillah bisa posting lagi.

Tanpa rencana yang matang, tiba-tiba aku memutuskan untuk jalan kaki lagi ke sudiang. Tapi kali ini aku menempuh jalan lewat tengah kota yang lebih jauh daripada lewat tol. Setelah selesai shalt subuh, aku langsung menyiram tanamanku lalu menyiapan segala sesuatu yang akan kuperlukan dalam perjalanan. Aku sudah pinjam headsetnya Opik untuk hiburan, Chitato, sebotol air dan sejumlah uang. Akupun turun dan berharap semoga tidak ada orang di lantai 1 dan pintu masih terbuka. Alhamdulillah aku dapat melenggang keluar tanpa hambatan.


17 menit kujalani jalan sunu dengan ½ citato, akhirnya aku sudah sampai di Urip Sumoharjo. Kutetapkan Fajar Graha Pena sebagai cek point pertama kemudian TMP Panaikang, PLTU Tello, UNHAS, Daya, Sudiang. Belum sampai di GraPen aku menyempatkan diri untuk duduk sebentar di trotoar namun hanya sebentar lalu lanjut ke Cek Point 1. Aku sebenarnya khawatir Hana tidak ada di rumah jadi aku akan menelponnya namun, uang kecil yang kubawa hanya 3000 dan itu adalah cadangan jika sewaktu-waktu akau sangat capek dan memutuskan untuk naik pete2. Akhirnya kuputuskan untuk beli pulsa namun sampai di Bung saya tidak menemukan Counter pulsa yang sudah buka. Dekat Poltek lah baru kutemukan hal itu.

Aku ingat, banyak yang harus kukerjakan jadi aku putuskan hanya sampai di UNHAS saja lalu aku pun naik pete2.

Jumat, 25 Juli 2008

Lama nda' Ngepost.

Alhamdulillah setelah lama nda' ngepost akhirnya saya bisa posting lagi.

Sebenarnya banyak sekali yang aku mau ceritakan mulai dari ATC, pulang kam PILKADA Majene yang aman dan masih banyak lagi tapi aku nda' punya banyak bahan lagi

so jadi malas deh ngepost. apalagi sekarang aku dominan ngurus fsku jadi ketinggalan deh blognya

Jumat, 27 Juni 2008

Pergantian Antar Waktu

Di lantai 3 yang damai ini ternyata ada perang yang senantiasa berkobar dengan semangat kamarisme. Telah ditetapkan olh para pendahulu setiap kamar mempunyai 1 hari unuk bertanggung jawab terhadap ketersediaan air di lantai 3. Dari sinilah semua itu berasal.

Sejak anak kelas satu masuk, Banyak pihak yang mencoba berbuat curang, seperti kemarin. Waktu menunjukkan jam 12 lewat 10 itu berarti sudah hari kamis dan kamar 5 yang bertugas. Sekumpulan anak asrama mendesak penghuni kamar 5 untuk turun di gelapnya malam ke lantai 1untuk mengangkat galon.

Hari inipun terjadi demikian, 3 menit setelah pergantian hari, sejumlah orang merongrong Arya untuk memenuhi kebutuhan air di Lantai 3, alhasil turunlah Arya dan menculik jumbo karena semua galon sudah kosong. Entah siapa besok yang akan jadi korban, Kamar 6 atau Kamar 7.

Kamis, 26 Juni 2008

Lagu Mandar untuk mengenang korban 40.000 jiwa

Memonge-monge tongani todzi Nita kappung

battunna napole panyapu


 

iya ta todzi boyang pura nasang

jadzi tayau diruanna tade


 

ingnganana tia pakkapung nagiring di galung Lombok

najijir nasio meccoko nateba' nasiappelor


 

meapa'a mimonge'na palainna nyawana

tannawalumi bakkena tanna pando'e todzi


 

iyamo todzi bere'na, mate olo'-olo'


 

meapa'a mmita todzi matindo di ku'burna

tannatiang kalo'banna tassiandarang dopi


 

tannaratang massesana, mappelei lino

Rabu, 25 Juni 2008

BIRA : END STORY

Setelah dari rumahnya Kya, semua mengaku sangat puas, memasuki kota Bulukumba sebuah kata apakah itu yang memulai permainan jayus-jayusan dan terus berlanjut sampai di Bantaeng karena kami terjebak macet diantara pendukung salah seorang calon PILKADA Bantaeng. Setelah keluar dari kemacetan, bis singgah untuk nambah angin dan kami menyempatkan diri untuk shalat dhuhur. Kami tidak menjamaknya karena kami yakin sampai sekitar permulaan waktu ashar.

Episode permainan sambung katapun dimulai. Saya satu grup dengan Isti Vs Irma, Cheka dan Intan yang hengkang dari tempat duduknya di depan karena tak sabar untuk bergabung dengan kehebohan kami. Sangat lama kami terus-menerus sambung kata. Hingga akhirnya semua capek berteriak dan mendengar kami. Permainan ini tentunya dimenangkan oleh saya dan Isti berkat tuntunan waktu studi banding ke Pare-pare karena itulah yang dilakukan sepanjang perjalanan.

Aksi gilapun berlanjut, aku bertukar headset dengan Isti. 2 aliran music yang sama sekali berbeda disatukan dalam kepalaku dan kepalanya Isti sampai kami capek. Kami kemudian singgah di penjual Jagung. Di Jeneponto klo tidak salah. Harga jagung pulu 5000 untuk 8 buah jagung, cukup murah disbanding di Barru. Kami beli yang mentah untuk Ayahanda kami. Dan 10000 patunganku dengan Langgeng untuk lantai 3. Setelah itu perjalanan agak sepi karena semua sudah capek.

Tiba di Makassar, semua sudah lowbat, beberapa yang dijemput mungkin sudah sampai di rumahnya, namun kami anak asrama harus kembali melewati jalan pematang sawah ke rumah besar kami. Aku hanya menarik rangselku yang beroda, diatasnya ada jagung milik Ayah dan tasnya Kya.

BIRA : Road to BontoTiro

Kuperkirakan perjalanan pulang akan kurang mengenakkan bagiku karena aku duduk si kursi without sandaran. Aku kurang ingat apa yang terjadi sejak dari Bira sampai rumahnya Kya, yang ada aku hanya baca Al-Qur'an.

Tiba di rumahnya Kya, sebuah rumah panggung yang dikelilingi berbagai jenis pohon. Betul-betul sebuah desa yang belum terjamah oleh tangan perusak manusia. Persis seperti yang diceritakan Kya, pohon mangga, jambu etcetera. Kami memang sudah bersiap untuk makan dan Tuan Rumah sudah bersiap dengan makanannya. Beberapa lobster langsung menjadi menu yang paling diminati disusul ikan bakar dan menu-menu lainnya. Sebelum makan aku sempat makan kue (aku lupa namanya) intinya kue itu pakai gula merah dan aku suka dengan semua kue yang pakai gula merah. Banyak yang sudah mengundangku sesegera mungkn untuk mengajukan lamaran ke walinya Kya. Yaa namanya gojlog-gojlogan(dalam bahasa Ketika Cinta Bertasbih) maka dibalas juga dengan gojlogkan juga. Kubilang saja 2atau 10 tahun lagi.

Habis lobster, semangkuk kaca es buah harus menjadi sasaran anak KOMPAK yang haus akan makanan penutup. Aku hanya menikmati kue merah itu dan sesekali menyendok es buah pada gelas teman.

BIRA : Busy Morning

Sudah setengah 6, saat saya masuk kamar mandi tak setimbapun air yang kutemukan akhirnya karen waktu yang terbatas terpaksa saya Aril dan Iccang tayammum untuk shalat Subuh. Setelah itu kembali kuambil pocket Al Quran untuk ngaji.

Pikiranku langsung tertuju pada bagaimana cara kita mandi, kudatangi satu persatu tempat permandian umum dan akhirnya nemu satu yang cukup jauh dari penginapan. Aku memilih untuk mandi disana sedang Aril dan Iccang membawa 5 jerigen berisi 20 liter air untuk dibagi-bagikan. Airpun ternyata bisa semahal ini. 3000 rupiah untuk setiap jerigennya. Setelah mandi, masih banyak teman yang belum bangun dari mimpinya padahal kita harus berangkat cepat agar tiba di Makassar tidak larut malam. Yang terakhir adalah Cyrus dengan Langgeng, sebenarnya ada sesuatu yang tidak pantas telah terjadi namun aku menganggapitu masalah kcil jangan terlalu dibesar-besarkan. Setelah duduk tenang diatas bis sambil terus memainkan kunci penginapan yang terbawa olehku. Hampir keluar dari kompleks wisata Bira, baru kuingat bahwa kunci ini harus kukembalikan. Akibatnya nagnggung bersama. Aku harus lari alias jalan cepat kembali ke counter penginapan untuk mengembalikan kunci. Bis pun berjalan meninggalkan Bira , SELAMAT TINGGAL BIRA, SUATU SAAT KUAKAN DATANG KEMBALI

BIRA : Malam Persahabatan

Setelah semua masalah clear. Kita semua kembali ke pantai dan membuat api unggung yang tak pernah jadi. Kita kemudian duduk melingkar dan main jujur-jujuran pun dimulai. Pertanyaan pertamanya yang kuingat adalah "siapa cewek di ipa 3 yag paling baik caranya berteman?" semua cowok wajib menjawab. Setelah itu suasana menjadi cair. Selain focus mendengar-curhat-curhatan, saya juga focus dengan istan pasir yang sedang kubangun denga pasir Bira yang sangat putih. Aku menyatakan kecintaanku pada pasir Bira. Saat forum jujur sudah mulai bubar dan membentuk forum sendiri, aku pergi sebentar dan ternyata Dini telah menginjak seperlima dari bangunanku. Aku bilang ngga apa2 karena itu seperti bangunan yang diguncang gempa sehingga hancur sebagian namun karena gelap, IMA sang kepala suku lari-lari dan menginjak serta mengancurkan toal semua bangunan yang kubuat. Aku stress mengejar meminta pertanggungjawabannya namun akhirnya semua kukembalikan pada pemiliknyayaitu Pantai BIra dan Allah subhanahuwataala sebagai pemilik yang paling berkuasa. Padahal setidaknya aku ingin melihatnya besok sekali lagi.

Sebagai kenang-kenangan kubawa 600ml pasir putih bira yang kutempatkan dalam botol minuman lalu kusimpan dengan rapi di dalam rangselku. Setelah hampir jam 12, sang psikolog menyarankan kita untuk kembali ke penginapan karena takut jika banyak pemabuk yang lalu lalang.

Ada yang langsung tidur tapi karen tidak ada air antrian panjang di penginapan cowokpun tak bisa dihindarkan setelah selesai antrian kami shalat isya setelah itu aku sempatkan membaca pocket Alquran ku diteras sambil menemani Intan,Rais dan Ima yang rencananya mau begadang. Bismika Allahumma Ahya waamutu. Malam ini aku tidur sangat nyenyak.

Selasa, 24 Juni 2008

BIRA : Drama Sang Supir

Malam yang seharusnya menjadi malam tenang, harus dibumbui sedikit dengan dram yang diciptakan sang supir Bis. Bagaimana tidak Si Supir yang sudah menyanggupi untuk membawa kami ke Bonto Tiro dengan tambahan 85000 tiba-tiba mengatakan batal dan kita harus langsung pulang ke Makassar, Perundingan di penginapan cowokpun semakin panas, "mau tidak mau, kita harus tetap ke Bonto Tiro karena Tuan Rumah(KYA) sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Di tengah kepanasan para pembesar kelas, Rara datang mencoba memperingatkan dengan selembut-lembutnya agar kita lebih baik makan dulu lalu diskusi lagi.

Memang sangat tidak tepat waktunya, Rarapun kena imbasnya dan mo'jo nangis sendiri saat kita semua masih rebut di meja makan soal pelik ini. Saya berusaha mendekatinya namun karena saya bukan perempuan yang memiliki sensitive care dan bukan mahramku, akhirnya segala kata-kata motivator yang tak pernah terlontar dari mulutku keluar juga. Lama sekali saya berkotek di sampingnya baru ada tanggapannya. Hingga berlangsung diskusi akbar denan melibatkan kakak sepupunya Isti yang ternyata seorang psikolog. Rara masih belum menghabiskan makannnya. Saya yakin mereka yang belum mau dekat-dekat Rara karena mereka takut salah ngomong dan malah memperkeruh suasana yang sudah gelap.

Sempat kami batalkan untuk pulang dengan bi situ namun karena kita sudah mengancam atau lebih tepat disebut menegaskan akhirnya dia ikut aturan kami. Wong kita yang liburan koq dia yang mau ngatur-ngatur.

BIRA : Buttu-Buttu na Bira

Setelah shalat ashar akhirnya kami semua sepakat jalan-jalan ke daerah buttu-buttu nya Bira yang sudah dieksplorasi lebih dulu oleh para tim explorator. Jalan terus tanpa arah, lurus saja melewati rumah orang Spanyol belok lalu lurus lagi sampai yang tua and agak takut menyerah dan mengusulkan untuk balik. Karena saya masih memiliki jiwa muda jadi masih ada beberapa orang yang tinggal di belakang dan akhirnya memnemukan sisi tebing pantai bira yang sangat indah. Kamerapun tak bisa diam, potret sana jepret sini, foto si fulan maupun fulanah atau 2 2nya dan keseluruhan. Akhirya banyak yang nyusul kami ke tempat indah itu.

    Hari semakin sore banyak sudah utusan yang mengajak kami untuk pulang sampai semua pulang dan singgah lagi di tempat yang sudah di singgahi oleh orang-orang di gelombang pertama. Walaupun bukan pantai sunset namun efek matahari terbenam semakin menambah kecantikan pantai Bira.

    Setelah belum puas berfoto kami bersegera pulang karena kedengaran ada suara diskotik yang sudah mulai aktif dengan bakal kedosaan mereka dan kami tak ingin merusak liburan kami dengan hal-hal seperti itu.

    Semua kembali ke pantai dan foto bersama di atas pasir yang telah surut air lautnya.